Menjadi sosok dewasa tidaklah mudah. Terlebih bagi kita yang akan, sedang, atau usai berada di fase 'seperempat abad' namun masih betah melajang. Pasti banyak pertanyaan yang menyerbu bak kawanan lebah dari berbagai sudut.

"Hey, kapan nikah?"
"Calonnya mana nih? Kok sendirian aja."
"Nunggu apa sih? Teman seangkatanmu lho udah pada gendong anak."

Tak dapat dipungkiri, saat mendengar pertanyaan-pertanyaan yang membuat hati tercubit tersebut, hati kita tak jarang tiba-tiba menciut. Dan seolah aktor profesional, kita mendadak jago memasang fake smile sembari melantunkan dialog andalan.

"Ehm, minta doanya saja ya. Biar disegerakan oleh Allah."

Ah, rasanya ingin menangis saja. Saat melihat mereka tersenyum kecut setelah mendengar kita merapal 'mantra' yang itu-itu saja. Sungguh, kamipun ingin merasakan kebahagiaan yang sama. Kamipun ingin segera merasakan bagaimana suka duka menakhodai sebuah bahtera yang bernama rumah tangga. Namun jika Allah belum menghendakinya, kami bisa apa? :)

Sejenak, kita pasti tenggelam dalam lamunan ini. Mencoba menerka, hal apa gerangan yang membuat kita belum dipertemukan dengan sang penggenap hati. Tapi tak usah risau, kita bisa melakukan banyak hal bermanfaat sembari terus memerbaiki diri. Salah satunya adalah menulis. Kenapa harus menulis? Berikut 6 alasan saya:

1. Mengurangi 'Beban Kepala'
Di usia 25 tahunan, pasti banyak hal yang harus kita pikirkan. Dari berkas pekerjaan, keuangan, masa depan, pernikahan, asmara, atau sekadar tempat wisata yang cocok kita kunjungi saat tanggal merah. Terlebih bagi orang yang suka berimajinasi liar seperti saya. Sangat perlu untuk mengurangi 'beban kepala' demi ketenangan jiwa. Karena jika dibiarkan memenuhi otak tanpa ada pelampiasan, besar kemungkinan akan menjadi gangguan psikis yang akan sangat memengaruhi kesehatan mental dan raga kita. Jika tidak ingin mengalaminya, maka menulislah. Karena melalui tulisan, kita bisa membagi apa yang menjadi beban kita. Dengan menulis, kita bisa meringankan apa-apa yang selama ini membuat gelisah.

2. Media Pencurah Isi Hati
Tak semua orang mampu menunjukkan perasaannya, tak semua orang berani menceritakan isi hatinya. Bagi orang yang tidak suka curhat, menulis adalah media yang tepat. Karena melalui tulisan, kita bisa mengekspresikan isi hati secara bebas. Bagi yang pemalu, bisa mencoretkan goresan pena di atas diary, agar tulisannya terprivasi. Dan bagi yang terbiasa unjuk gigi, bisa mengunggah curhatan tersebut di berbagai media sosial. Bisa berupa puisi, cerpen, cerbung, narasi, dan lainnya. Hal ini tentu dapat membuat hati dan pikiran kita menjadi terasa lebih lega dan nyaman karena kita sudah dapat menungkapkan segala isi hati kita.

3. Memiliki Komunitas dan Sahabat Satu Hobby
Jika kita berakhir jatuh cinta pada dunia tulis menulis, lebih baik kita bergabung dengan komunitas menulis. Dengan seperti itu, kita akan mendapat sahabat satu hobby yang bisa kita jadikan partner bertukar gagasan. Kita juga bisa memiliki 'rumah' bagi bakat kita dan orang-orang yang dengan senang hati mengapresiasi karya kita.

4. Be Yourself and Be Creative
Saat kita menulis, kita bisa menjadi diri kita sendiri. Karena kita bebas untuk berekspresi, mengungkapkan apa yang kita inginkan, tanpa harus terpengaruh pendapat orang. Terus asah kreatifitasmu. Karena dengan menulis, kita bisa memahat karya yang berarti bagi orang di sekitar kita. Saat kita mempunyai suatu karya dan diminati oleh banyak orang, tentu itu akan menaikan harkat dan martabat kita sebagai penulis.

5. Jejakmu Abadi
"Menulis adalah bekerja untuk keabadian" - Pramoedya Ananta Toer
Dengan menulis kita bisa mengabadikan karya buah pemikiran ataupun perjalan hidup kita. Yang mana akan tetap ada sekalipun kita tinggal nama. Yang akan tetap terpatri sekalipun raga kita mati.

6. Bertemu Jodoh yang Dirindu
Dengan menulis, tidak menutup kemungkinan kita akan bertemu jodoh kita. Mungkin saja, dia adalah teman satu komunitas kita. Atau yang paling konyol, mungkin saja dia adalah pengagum rahasia karya-karya kita. Sebagai sesama pecandu literasi, kalian pasti akan jadi pasangan yang hebat. Yang bisa saling menghormati kebutuhan akan ruang dan dapat bertukar gagasan kreatif untuk berkolaborasi dalam proyek kepenulisan.

Readers, terlepas dari apa yang saya paparkan, menulis adalah panggilan jiwa. Tulisan kita akan kehilangan makna jika kita tak mampu memberikan 'nyawa' di setiap katanya. Karena tulisan adalah cerminan penulisnya, maka jangan segan untuk menorehkan hal terbaik di tiap lembarnya. Sembari menunggu jodoh, tak ada salahnya kok untuk berkarya. Yuk, mulai menulis!

Jombang, 9 September 2019

 

#Day1

#ODOPBatch7

#OneDayOnePost

#GrupKairo

#Salam Literasi

Postingan Serupa

Komentar Pembaca

Andri (akhybrewok)

Bisa jadi menulis itu pelampiasan perasaan yah Heehehe

Ashima Meilla Dzulhijjah

Wah ilmu baru.. Terimakasih ilmunya 😊

Umi habibah

Bagus bu,ditunggu artikel selanjutnya nggeh

Amanda Linhan

Bagus tulisannya. Keep up the good work!

shefi nur laili

bagussBuu!!! sukses kedepannya @diaryassuci💪

Berikan Komentar

Kategori

Berlangganan

Popular Post

Sajak Musim Gugur

Dilihat 102 Kali

Sebongkah Memori

Dilihat 92 Kali

Syair Gelisahku

Dilihat 80 Kali

6 Manfaat Menulis Bagi Para Perindu Jodoh

Dilihat 74 Kali

Sajak Titik Awal

Dilihat 59 Kali